Mengapa Kekayaan Tidak Bisa Dipaksakan?

Pernahkah kita merasa sudah kerja banting tulang, dari subuh sampai tengah malam, tapi rasanya rezeki segitu-segitu saja? Sementara ada orang yang kelihatannya santai, tapi rezekinya mengalir deras.

Ada yang persiapannya sudah benar-benar matang, umpama ingin buka usaha dagang, menentukan langkah-langkah tercapainya hasil yang diinginkan dengan mencari jenis usaha yang prospeknya cerah, cari lokasi strategis, bikin strategi agar konsumen tertarik membeli.

Eh, pas usahanya uda jalan sampai beberapa bulan, bahkan tahun, mandeg, sepi pembeli, atau penjualan biasa-biasa saja, tidak seperti yang diharapkan.

Kenapa ini bisa terjadi?

Kalau ditanya para bisnismen kapitalis, cepat dan yakin mereka ngejawabnya:

"Ooh, itu karena kemampuan managerial anda buruk, kurang cerdas dan pengalaman sih?

Ooh, itu karena produk anda kurang unik..

Ooh, itu karena anda tidak pandai bergaul dan bersosialisasi.

Ooh, anda tidak jeli menganalisa pasar.

Bla...bla... &$+×???!!!*^ gedubrak krompyang...!!!!


Begitulah para bisnismen kapitalis selalu pede menghitung-hitung diatas kertas. Bagi mereka 1 + 1 = 2 sama dengan kerja keras + cerdas = simsalabim jadi kaya raya. Padahal prakteknya / fakta di lapangan belum tentu / tidak mutlak seperti itu.

Orang boleh berikhtiar tapi hasil akhir itu bukan mutlak kita menentukan. Ada faktor X disana, itu bisa dikatakan Taqdir atau Rezeki.

Ada orang bisa kaya, tapi tak butuh kerja keras, baik fisik atau fikiran. Dia memang berikhtiar tapi ga ngoyo atau ngotot, cuma santai di rumah, uang mengalir. Ada kayak gini, ya ada lah...!!!

Ini bukti kalau kekayaan itu didapat bukan mutlak dari kerja keras dan kepintaran kita. Awas ya, kalau anda orang kaya, jangan coba-coba nyombongin diri menganggap kekayaan yang kau dapat adalah dari kepintaranmu!

Ikhtiarmu cuma formalitas, rezekimu sudah ditakar oleh-Nya.

Bukan berarti kita tak berupaya dan hanya menunggu rezeki dari langit, ini juga salah. Islam melarang ummatnya hanya berdiam diri, duduk-duduk di rumah, ongkang-ongkang kaki, tanpa berupaya sama sekali. Kita disuruh bertebar, cari karunia Allah di muka bumi ini.

Tetap ada hukum sebab akibat bahwa apa yang didapat itu harus ada ikhtiar yang diupayakan, itu sudah sunnatullahnya. Hanya saja ikhtiar itu bukan penyebab mutlak sedikit atau banyak rezekimu.

Dalam Islam, rezeki itu didapat bukan karena seberapa kuat kau mencarinya, tapi seberapa kuat tawakkalmu kepadaNya.

Ikhtiar tidak mengkhianati hasil ❌️ Tawakkal tidak mengkhianati hasil ✅️

kalau kekayaan tidak bisa dipaksakan, ibadah justru bisa. lho kok? ya iya lah! Anda coba paksakan sholat lima waktu berjamaah dimasjid, anda coba paksakan sholat Lail disepertiga malam, anda coba paksakan baca Quran tiap hari, anda coba paksakan sholat Dhuha tiap hari, dan ibadah lainnya. Coba anda lakukan (ini untuk Muslim ya, untuk non Muslim: ya silakan aja kalau mau? siapa tahu bisa sekalian login), anda akan rasakan kenikmatan dan kedamaian. Anda memaksakan diri untuk kaya: STRES, anda memaksakan diri untuk ibadah: NIKMAT DAN DAMAI HATI. Coba saja..!!

Okelah.. berikut dibawah ini beberapa alasan mengapa kekayaan itu tidak bisa kita "paksakan" semau kita:

1. Rezeki Sudah Ada Takarannya

Allah Subhana Wa Ta'ala telah mengatur porsi rezeki setiap makhluk-Nya bahkan sebelum kita lahir. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa ketentuan rezeki, ajal, dan amal telah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). (QS. Ar-Ra'd: 26)

Memaksa kaya (apalagi dengan cara yang tidak sehat) seperti korupsi atau riba, berbuat curang, tidak akan menambah jatah rezeki kita, itu hanya akan mengubah jatah rezeki yang seharusnya halal menjadi haram. Seberapa kuat kau bekerja keras, seberapa pintar dirimu, rezekimu ya segitu-segitu juga.

2. Tidak Semua Orang Ditakdirkan Untuk Kaya

Ini yang saya katakan diatas, ada orang yang bekerja keras, tapi hasilnya segitu-segitu juga. Dan ini penyebabnya bukan semata karena dia tidak cerdas, dan sejuta tidak-tidak lainnya. Tapi memang segitulah rezeki yang diberikan untuknya. kalau memang penyebab kekayaan itu karena kepintaran, profesor pasti jadi orang kaya semua, tapi faktanya tidak kan?

Banyak yang lupa bahwa dalam Islam, kekayaan adalah fitnah (ujian). Tidak semua orang "kuat" memikul beban kekayaan. Allah yang Maha Tahu kapasitas hamba-Nya mungkin belum / tidak memberikan kekayaan kepada seseorang, karena Dia ingin menjaga imannya.

Jika dipaksakan sementara mental dan iman belum mampu menerima, kekayaan tersebut justru bisa menjadi jalan menuju kehancuran kepada diri manusia tersebut. (ini banyak faktanya). Anda bisa lihat, kekayaan itu sering berupa istidraj. apa tandanya? Semakin kaya semakin jauh dariNya.

3. Sederhana / kemiskinan Itu Lebih sering banyak Menyelamatkan

Orang itu kalau disayang Allah, apa yang diberikan untuknya? Kebahagiaan? Kenikmatan? Kekayaan..??? No.. No.. No men, justru orang yang disayang Allah itu diberi banyak bala / kesusahan / kesedihan / kemiskinan. Kenapa? Ya biar dia ga jauh dari Allah, soalnya manusia kalau senang hidupnya suka lupa diri, sombong, terjerumus maksiyat. Kalau seseorang itu hidupnya susah, pasti dia larinya ya ke Allah, minta pertolongan dan bergantung kepadaNya. gettooo...!!!

Dus.. Kemiskinan bagi orang yang disayang Allah akan jadi penyelamat baginya dari hisab (pertangung jawaban) kelak di Yaumil Akhir. Ente kira jadi orang kaya itu ga di hisab di akhirat nanti?

Kekayaan yang dipaksakan seringkali kehilangan aspek terpenting yaitu Keberkahan Sedikit tapi cukup dan membawa ketenangan, itu lebih baik. Banyak tapi habis untuk pengobatan, tertipu, atau tidak harmonis dalam keluarga, itu tanda hilangnya berkah.

Tujuan kita bukan sekadar "menumpuk harta", tapi mencari rezeki yang bisa menjadi bekal di akhirat. (That is the point)

5. Bajumu Tidak Sama Dengan Baju Orang Lain

lihat orang sukses, ngikut, ikuti caranya, kiatnya, jalannya. Tapi kok susah ya? Duuh.. Ane ga ada bakat jadi pengusaha. Jangan salahkan kalau ada orang ngomong kayak gitu ya Boos..!!! Meraih kesuksesan dan kekayaan duniawi itu memang tidak gampang, dan memang tidak semua manusia harus mendapatkannya. Boleh aja semangat, berupaya, tapi kalau gagal, jangan bilang diri anda itu bodoh. Kalau anda tidak mengakui kegagalan anda, dan merasa yakin dan kuat, itu tandanya ENTE SOMBONG dihadapan Allah Azza Wa Jalla.

Di era sekarang, banyak sekali motivator / bisnismen kesuksesan yang memberikan tutorial kaya. Harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Beeuuggh....!!!

Peta yang Berbeda: Motivator membagikan "peta" yang berhasil di hidup mereka. Namun, kondisi jalan (ujian hidup) setiap orang berbeda. Apa yang berhasil untuk si motivator, belum tentu cocok dengan situasi, modal, dan lingkungan yang kita miliki.

Hanya Memberi Semangat, Bukan Mutlak Hasil. Motivator bisa memberi kita bensin (semangat), tapi mereka tidak bisa mengemudikan kendaraan kita menuju garis finis.

Bahaya "Toxic Positivity": Kadang, terus-menerus mendengarkan kutipan sukses tanpa dibarengi realitas bisa membuat kita merasa berdosa saat gagal. Padahal, gagal itu manusiawi dan bagian dari takdir.

4. Konsep Tawakal: Ikhtiar Maksimal, Hasil Pasrah

Islam mengajarkan kita untuk menjadi "tangan di atas". Kita wajib berusaha sekuat tenaga (Ikhtiar), namun di ujung usaha tersebut, kita harus Tawakkal.

Memaksa hasil berarti kita sedang "mendikte" Tuhan. Padahal, tugas kita hanya berusaha dengan cara yang benar, sisanya adalah urusan Allah yang Maha Mengatur.

Kesimpulan:

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kaya hati (Qana'ah). (HR. Bukhari & Muslim)

Jika saat ini kita merasa sudah berusaha namun belum juga kaya, jangan berkecil hati. Bisa jadi Allah sedang memberi kita "kekayaan" dalam bentuk lain: kesehatan, keluarga yang rukun, atau waktu luang untuk beribadah agar dekat dekat dengan-Nya.

Remember one thing! Anda itu hidup di dunia yang fana, waktunya pun tak lama, jangan sampai kesibukanmu mencari kekayaan / rezeki menghabiskan banyak waktumu ketimbang beribadah kepadaNya. Tujuan hidupmu didunia bukan untuk cari rezeki, tapi untuk beribadah kepada-Nya.

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form