Membaca artikel demi artikel di situs SimulasiKredit memang bikin tensi naik, termasuk yang ini:
"Orang Kaya Lebih Hemat daripada Orang Miskin".
Penulisnya dengan sangat percaya diri (dan memang tendensius) mencoba meyakinkan bahwa orang kaya menjadi kaya karena mereka pintar berhemat, sementara orang miskin tetap miskin karena "boros" membeli barang murah.
Mari kita bedah satu per satu, karena bagi saya, ini bukan edukasi keuangan. Ini adalah penghinaan intelektual yang dibalut motivasi murah!
Bedah Logika: Hey manusia, itu bukan strategi hemat, itu namanya diskriminasi sistemik. Perbankan secara terang-terangan menghukum orang yang saldonya sedikit. Memuji orang kaya karena tidak kena biaya admin adalah seperti memuji orang sehat karena tidak perlu minum obat. Ini bukan hemat, ini adalah privilege saldo yang digunakan sistem untuk memeras mereka yang sedang kesulitan.
Bedah Logika: Ini adalah Rabun Empati tingkat akut. Orang miskin bukan bodoh sehingga tidak tahu kalau baju 500 ribu itu lebih berkualitas. Masalahnya, mereka tidak punya uang tunai 500 ribu hari ini! Membeli baju 70 ribu adalah strategi bertahan hidup agar hari ini mereka tidak telanjang. Mengatakan si kaya lebih hemat karena bisa beli kualitas adalah ejekan bagi mereka yang jangankan beli baju mahal, buat makan besok saja masih dicari.
Bedah Logika: Sekali lagi, ini soal akses modal, bukan kepintaran otak. Untuk bisa hemat 50 ribu dengan memborong, anda butuh uang dingin di dompet. Orang miskin membeli eceran karena uang mereka memang eceran. Menyebut kemampuan menimbun barang saat diskon sebagai kehematan adalah penghinaan bagi mereka yang harus mengatur uang seribu-dua ribu setiap harinya.
Menjadi miskin itu mahal ongkosnya. Anda dipaksa membayar lebih mahal untuk kualitas yang lebih buruk karena Anda tidak memiliki modal untuk membayar keawetan.
Bedah Logika: Dunia ini sedang sakit. Mereka yang sanggup membeli segalanya justru dikelilingi oleh barang gratisan. Sementara mereka yang butuh bantuan, harus membayar biaya admin hingga parkir yang mencekik. Menyebut keberuntungan sistem ini sebagai bentuk penghematan adalah sesat logika yang luar biasa.
Kenyataannya? Orang miskin adalah manajer keuangan paling hebat di dunia. Mereka bisa bertahan hidup dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk biaya parkir mobil si kaya dalam sehari. Jika mereka harus membayar lebih mahal untuk admin bank atau baju murah, itu karena sistem sedang memalak mereka, bukan karena mereka tidak tahu cara berhemat.
"Orang Kaya Lebih Hemat daripada Orang Miskin".
Penulisnya dengan sangat percaya diri (dan memang tendensius) mencoba meyakinkan bahwa orang kaya menjadi kaya karena mereka pintar berhemat, sementara orang miskin tetap miskin karena "boros" membeli barang murah.
Mari kita bedah satu per satu, karena bagi saya, ini bukan edukasi keuangan. Ini adalah penghinaan intelektual yang dibalut motivasi murah!
1. Menabung di Bank: Antara Hemat dan Diskriminasi
Artikel itu menyebut orang kaya hemat karena saldo 20-30 juta membebaskan mereka dari biaya admin. Sebaliknya, uang orang miskin habis dipotong admin.Bedah Logika: Hey manusia, itu bukan strategi hemat, itu namanya diskriminasi sistemik. Perbankan secara terang-terangan menghukum orang yang saldonya sedikit. Memuji orang kaya karena tidak kena biaya admin adalah seperti memuji orang sehat karena tidak perlu minum obat. Ini bukan hemat, ini adalah privilege saldo yang digunakan sistem untuk memeras mereka yang sedang kesulitan.
2. Tragedi Baju 70 Ribu vs 500 Ribu
Katanya, orang kaya hemat karena beli baju 500 ribu yang awet 5 tahun, sedang orang miskin boros karena beli baju 70 ribu yang cepat rusak.Bedah Logika: Ini adalah Rabun Empati tingkat akut. Orang miskin bukan bodoh sehingga tidak tahu kalau baju 500 ribu itu lebih berkualitas. Masalahnya, mereka tidak punya uang tunai 500 ribu hari ini! Membeli baju 70 ribu adalah strategi bertahan hidup agar hari ini mereka tidak telanjang. Mengatakan si kaya lebih hemat karena bisa beli kualitas adalah ejekan bagi mereka yang jangankan beli baju mahal, buat makan besok saja masih dicari.
3. "Borong" Saat Diskon: Monopoli Berkedok Hemat
Poin diskon di artikel itu menyebut orang kaya bisa borong minyak goreng saat diskon sehingga hemat 50 ribu, sementara orang miskin cuma hemat 10 ribu karena mampunya beli sedikit.Bedah Logika: Sekali lagi, ini soal akses modal, bukan kepintaran otak. Untuk bisa hemat 50 ribu dengan memborong, anda butuh uang dingin di dompet. Orang miskin membeli eceran karena uang mereka memang eceran. Menyebut kemampuan menimbun barang saat diskon sebagai kehematan adalah penghinaan bagi mereka yang harus mengatur uang seribu-dua ribu setiap harinya.
Menjadi miskin itu mahal ongkosnya. Anda dipaksa membayar lebih mahal untuk kualitas yang lebih buruk karena Anda tidak memiliki modal untuk membayar keawetan.
4. Hadiah Gratis: Kenapa yang Mampu Justru Diberi?
Paling menjijikkan adalah poin soal poin bank dan tiket gratis. Orang kaya disebut hemat karena sering dapat hadiah undian dan mileage pesawat.Bedah Logika: Dunia ini sedang sakit. Mereka yang sanggup membeli segalanya justru dikelilingi oleh barang gratisan. Sementara mereka yang butuh bantuan, harus membayar biaya admin hingga parkir yang mencekik. Menyebut keberuntungan sistem ini sebagai bentuk penghematan adalah sesat logika yang luar biasa.
Berhenti Menghakimi Si Miskin!
Artikel semacam itu hanya ingin membuat orang kaya merasa layak dengan kekayaannya dan membuat orang miskin merasa salah atas kemiskinannya.Kenyataannya? Orang miskin adalah manajer keuangan paling hebat di dunia. Mereka bisa bertahan hidup dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk biaya parkir mobil si kaya dalam sehari. Jika mereka harus membayar lebih mahal untuk admin bank atau baju murah, itu karena sistem sedang memalak mereka, bukan karena mereka tidak tahu cara berhemat.
Jangan ajari orang lapar cara berhemat. Ajari sistem agar tidak memeras mereka yang sedang sekarat!
Tags
Kontra Arus
