Kalau anda membaca tulisan-tulisan orang kaya tentang orang miskin, anda akan dapati banyak sekali stigma buruk mereka kepada si miskin. Seolah orang miskin itu adalah kasta rendah yang tak faham bahkan tak berhak menikmati hartanya.
Di situs simulasikredit dot com atau mungkin di web-web sejenis seperti itu, orang-orang miskin habis mereka cela: Mental miskin, pemalas, kurang berusaha, bodoh, ga bisa pegang uang (boros), kurang gizi, pendidikan rendah, penyakitan, pendengki, apalagi? Silakan tambah, anda baca saja di link situs diatas.
Mengapa pandangan ini bisa terbentuk? Padahal faktanya banyak orang miskin yang bekerja dua kali lebih keras secara fisik. Apakah ini sekadar ketidaktahuan, atau ada bias psikologis tertentu?
Mari kita telaah: Eeng iing eeeng..!!!
Pola fikir si kaya: "Saya dulu juga susah, tapi saya banting tulang, keluar dari zona nyaman, bangun pagi, kerja keras, berhemat, dan sekarang saya sukses. Jika ente belum sukses, berarti ente kurang keras berusahanyan kurang keras cerdasnya." Begitu mungkin kata si OKK ini (Orang Kaya Kapitalis)
Si OKK ini mungkin lupa ada yang namanya Modal Awal (Privilese) plus faktor X (bakat dan keberuntungan). Mereka mungkin lupa kalau mereka punya badan yang sehat, karakter luwes (mudah bergaul), punya koneksi plus dukungan orang tua, mampu menganalisa pasar atau pendidikan yang bagus. Itu semua modal awal yang mahal. Ketika mereka melihat orang lain gagal, mereka langsung menyimpulkan, "Ah, itu pasti karena malas, kurang cerdas," padahal garis start-nya sudah beda jauh. Mereka anggap kemiskinan adalah kegagalan karakter (malas), bukan kegagalan sistem.
Di mata orang kaya, ini BOROS dan TIDAK LOGIS!
Sosiolog menjelaskan ini dengan teori Scarcity Mindset: Bagi Orang Kaya, uang adalah alat untuk masa depan (investasi, aset). Menunda kesenangan adalah hal yang mudah karena kebutuhan dasar sudah aman. Sedangkan bagi orang miskin, hidup penuh ketidakpastian. Ketika ada sedikit uang lebih, dorongan psikologisnya adalah mendapatkan hiburan instan (dopamin) karena stres hidup yang tinggi. Rokok, kopi mahal, HP dan motor baru mungkin adalah satu-satunya "kemewahan" yang bisa mereka beli untuk melupakan beban hidup sejenak.
Pernah ga sih si orang kaya kapitalis ini merasakan hidup di tengah tekanan ekonomi dengan stres yang luar biasa? Ketika orang miskin punya sedikit uang lebih, mereka cenderung menggunakannya untuk hiburan instan (membeli barang baru, rokok, atau makanan enak) sebagai pelarian atau hadiah kecil atas stres yang mereka rasakan seharian.
Intinya: Sulit menabung buat 10 tahun ke depan, kalau perut hari ini saja belum terisi. Spending itu dilihat sebagai cara untuk bertahan hidup, bukan sekadar gaya hidup. Orang kaya melihat ini sebagai "kebodohan finansial," padahal ini seringkali adalah mekanisme pertahanan mental.
Sudut Pandang Si Kaya: "Kenapa mereka tidak menabung untuk kuliah anak? Kenapa tidak ikut asuransi?" Padahal realitanya sulit memikirkan rencana 10 tahun ke depan. Boro-boro investasi, mikirin buat makan besok atau bayar tagihan listrik saja sudah membuat panik. Ketidakmampuan merencanakan masa depan ini sering disalahartikan sebagai "kemalasan berpikir" atau "kurang wawasan."
Ketika mereka melihat seseorang bekerja keras secara fisik tapi tetap miskin, mereka akan berpikir, "Kenapa enggak cari kerja yang lebih pintar? Kenapa enggak upgrade skill geto looch?" Ga mikir kali ya, upgrade skill itu butuh biaya, waktu luang, dan akses pendidikan yang tidak dimiliki semua orang.
Oleh karena itu, demi kenyamanan mental, lebih mudah bagi mereka untuk percaya bahwa orang miskin itu miskin karena kesalahan mereka sendiri (malas/boros), bukan karena ketidakadilan dunia.
Apa yang tampak sebagai keborosan bagi si kaya, mungkin adalah obat stres atau hiburan bagi si miskin. Apa yang tampak sebagai kemalasan bagi si kaya, mungkin adalah kelelahan mental akibat kemiskinan struktural.
Meraih kekayaan itu ga cukup dengan semangat, kerja keras, kerja cerdas, modal cukup, ikuti tutorial dan motifasi orang kaya. Ga segampang itu Boss..!! Mengejar kekayaan adalah proses yang jauh lebih kompleks yang melibatkan faktor-faktor di luar kendali dan upaya individu.
Itulah tadi faktor-faktor yang menyebabkan si kaya kapitalis suka memandang rendah orang miskin. Semoga tercerahkan.
Disclaimer:
Tidak semua orang kaya seperti yang dimaksud dalam blog ini, semua ada pengecualian. Ada juga orang kaya yang bersahaja, rendah hati, sering berbagi ke sesama dan berwawasan. Tapi itu sedikit jumlahnya. Agar tidak menggeneralisir, kita sebut sajalah orang kaya yang dimaksud dalam artikel ini adalah Orang Kaya Kapitalis (OKK).
Di situs simulasikredit dot com atau mungkin di web-web sejenis seperti itu, orang-orang miskin habis mereka cela: Mental miskin, pemalas, kurang berusaha, bodoh, ga bisa pegang uang (boros), kurang gizi, pendidikan rendah, penyakitan, pendengki, apalagi? Silakan tambah, anda baca saja di link situs diatas.
Mengapa pandangan ini bisa terbentuk? Padahal faktanya banyak orang miskin yang bekerja dua kali lebih keras secara fisik. Apakah ini sekadar ketidaktahuan, atau ada bias psikologis tertentu?
Mari kita telaah: Eeng iing eeeng..!!!
Jebakan "Saya Bisa, Kenapa Kamu Enggak?"
Kebanyakan orang yang sukses (terutama yang merintis dari nol) yakin 100% kalau kesuksesan mereka itu murni hasil kerja keras mereka sendiri.Pola fikir si kaya: "Saya dulu juga susah, tapi saya banting tulang, keluar dari zona nyaman, bangun pagi, kerja keras, berhemat, dan sekarang saya sukses. Jika ente belum sukses, berarti ente kurang keras berusahanyan kurang keras cerdasnya." Begitu mungkin kata si OKK ini (Orang Kaya Kapitalis)
Si OKK ini mungkin lupa ada yang namanya Modal Awal (Privilese) plus faktor X (bakat dan keberuntungan). Mereka mungkin lupa kalau mereka punya badan yang sehat, karakter luwes (mudah bergaul), punya koneksi plus dukungan orang tua, mampu menganalisa pasar atau pendidikan yang bagus. Itu semua modal awal yang mahal. Ketika mereka melihat orang lain gagal, mereka langsung menyimpulkan, "Ah, itu pasti karena malas, kurang cerdas," padahal garis start-nya sudah beda jauh. Mereka anggap kemiskinan adalah kegagalan karakter (malas), bukan kegagalan sistem.
2. Gaya Pikir "Habiskan Sekarang!" (The Boros, Padahal Stres)
Ini yang paling sering bikin orang kaya geleng-geleng kepala: Kenapa orang yang kurang mampu kok membeli rokok, motor cicilan, beli HP baru atau kuota internet mahal, padahal rumahnya belum layak, masih tinggal di gang kumuh lagi. Harusnya mereka itu menabung?Di mata orang kaya, ini BOROS dan TIDAK LOGIS!
Sosiolog menjelaskan ini dengan teori Scarcity Mindset: Bagi Orang Kaya, uang adalah alat untuk masa depan (investasi, aset). Menunda kesenangan adalah hal yang mudah karena kebutuhan dasar sudah aman. Sedangkan bagi orang miskin, hidup penuh ketidakpastian. Ketika ada sedikit uang lebih, dorongan psikologisnya adalah mendapatkan hiburan instan (dopamin) karena stres hidup yang tinggi. Rokok, kopi mahal, HP dan motor baru mungkin adalah satu-satunya "kemewahan" yang bisa mereka beli untuk melupakan beban hidup sejenak.
Pernah ga sih si orang kaya kapitalis ini merasakan hidup di tengah tekanan ekonomi dengan stres yang luar biasa? Ketika orang miskin punya sedikit uang lebih, mereka cenderung menggunakannya untuk hiburan instan (membeli barang baru, rokok, atau makanan enak) sebagai pelarian atau hadiah kecil atas stres yang mereka rasakan seharian.
Intinya: Sulit menabung buat 10 tahun ke depan, kalau perut hari ini saja belum terisi. Spending itu dilihat sebagai cara untuk bertahan hidup, bukan sekadar gaya hidup. Orang kaya melihat ini sebagai "kebodohan finansial," padahal ini seringkali adalah mekanisme pertahanan mental.
3. Perbedaan Horison Waktu (Visi Jangka Panjang vs. Harian)
Orang kaya memiliki kemewahan untuk berpikir jangka panjang (5–10 tahun ke depan). Orang miskin seringkali dipaksa keadaan untuk berpikir jangka sangat pendek (hari ini makan apa).Sudut Pandang Si Kaya: "Kenapa mereka tidak menabung untuk kuliah anak? Kenapa tidak ikut asuransi?" Padahal realitanya sulit memikirkan rencana 10 tahun ke depan. Boro-boro investasi, mikirin buat makan besok atau bayar tagihan listrik saja sudah membuat panik. Ketidakmampuan merencanakan masa depan ini sering disalahartikan sebagai "kemalasan berpikir" atau "kurang wawasan."
4. Tidak Sadar "Kerja Keras" Itu Macam-macam
Di lingkungan elit, kerja keras diartikan sebagai "smart work" (strategi, rapat, manajemen). Mereka mungkin lupa bahwa ada kerja keras lain: "kerja fisik" yang menguras tenaga (jadi kuli panggul, cleaning service, pelayan restoran, buruh cuci, atau kuli bangunan).Ketika mereka melihat seseorang bekerja keras secara fisik tapi tetap miskin, mereka akan berpikir, "Kenapa enggak cari kerja yang lebih pintar? Kenapa enggak upgrade skill geto looch?" Ga mikir kali ya, upgrade skill itu butuh biaya, waktu luang, dan akses pendidikan yang tidak dimiliki semua orang.
5. Enak Berpikir Dunia Itu Adil (Mindset)
Secara psikologis, manusia ingin percaya bahwa dunia ini adil. Orang baik akan sukses, orang malas akan gagal. Kepercayaan ini menenangkan hati. Jika orang kaya mengakui bahwa seseorang bisa bekerja sangat keras namun tetap miskin karena nasib atau sistem, itu menakutkan (berarti kekayaan mereka pun bisa hilang karena nasib).Oleh karena itu, demi kenyamanan mental, lebih mudah bagi mereka untuk percaya bahwa orang miskin itu miskin karena kesalahan mereka sendiri (malas/boros), bukan karena ketidakadilan dunia.
Kesimpulan
Label malas dan boros yang disematkan pada orang miskin seringkali muncul karena kebutaan terhadap faktor privilese (modal awal). Orang kaya kapitalis sering mengukur kemampuan orang lain menggunakan penggaris (standar) mereka sendiri, tanpa menyadari bahwa garis start-nya berbeda.Apa yang tampak sebagai keborosan bagi si kaya, mungkin adalah obat stres atau hiburan bagi si miskin. Apa yang tampak sebagai kemalasan bagi si kaya, mungkin adalah kelelahan mental akibat kemiskinan struktural.
Meraih kekayaan itu ga cukup dengan semangat, kerja keras, kerja cerdas, modal cukup, ikuti tutorial dan motifasi orang kaya. Ga segampang itu Boss..!! Mengejar kekayaan adalah proses yang jauh lebih kompleks yang melibatkan faktor-faktor di luar kendali dan upaya individu.
Itulah tadi faktor-faktor yang menyebabkan si kaya kapitalis suka memandang rendah orang miskin. Semoga tercerahkan.
Tags
Kontra Arus
