Banyak Anak Adalah Penyebab Kemiskinan Kata si Kapitalis

Banyak Anak Adalah Penyebab Kemiskinan Kata si Kapitalis
Kata orang kaya kapitalis: Banyak anak adalah salah satu penyebab bertambahnya kemiskinan bagi orang miskin. Seperti yang ditulis SITUS KAPITALIS simulasikredit dot com ini.

Memanglah si kaya kapitalis ini benar-benar kapitalis, miskin ilmu agama. Orientasi hidup mereka tak lepas dari materi dan keduniaan. Mereka begitu percaya diri kepada hitung-hitungan diatas kertas yang mereka perbuat. Contohnya: Kalau mau kaya, harus kerja keras, kerja cerdas, investasi, menabung. Caranya harus begini, begitu, bla..bla lainnya. Seolah itu sudah standar bakunya.

Begitu juga dengan anak, di mindset orang kaya kapitalis, sudah terpatri kuat bahwa banyak anak adalah sebuah masalah hidup yang harus diselesaikan dengan UANG...!!!! Bertambah banyak anak, makin dekat dengan kemiskinan, kata mereka.

Benarkah demikian..??? Mari kita telaah:

Punya Banyak Anak Itu Berkah, Bukan Sekadar Beban!

Anak itu Karunia Allah. Hadirnya seorang anak merupakan penyemangat baru. Kehadiran anak seringkali menjadi dorongan kuat bagi orang tua untuk bekerja lebih keras, mencari peluang baru, dan bahkan memulai usaha. Semangat ini bisa jadi kunci untuk keluar dari kemiskinan.

Ketika anak-anak tumbuh dewasa, mereka bisa menjadi pilar pendukung keluarga. Mereka bisa saling membantu adik-adiknya, atau mendukung orang tua yang sudah sepuh. Ini adalah kekuatan sosial dan ekonomi yang tak ternilai harganya.

Bukan cuma itu, anak itu ASET KHUSUS bagi orang tua, EEETS, belum titik masih ada lanjutannya, anak itu aset istimewa bagi orang tuanya, asal anak tersebut merupakan anak yang sholeh. Kenapa aset istimewa? Ya kalau nanti orang tua telah tiada, anak-anaknya lah yang mendoakannya. Tidak ada yang paling berharga bagi orang tua kecuali doa anak yang sholeh. Harga mati itu..!!!!

Fix, slogan banyak anak banyak rezeki itu masih berlaku dan benar adanya...!!!!

Yang kasih Makan Anak Ente Itu Allah, Bukan Hasil Dari Keringat dan Kesuksesanmu

Semua orang Islam dengan pribadi mukmin mengetahui bahwasanya Islam itu menganjurkan ummatnya memperbanyak anak. Dengan tegas Islam mengatakan tidak boleh meyakini takut miskin karena banyak anak! Ini menyalahi Tauhid. Anak adalah karuniaNya. Karena itu kehadiran anak pasti membawa keberkahan.

Memang, saat anak bertambah, kebutuhan di rumah pasti ikut naik. Biaya makan, sekolah, dan kesehatan tentu harus dipikirkan. Di awal, ini terasa seperti beban yang berat. Wajar kalau ada yang khawatir. Merawat anak apalagi lebih dari satu, memang butuh biaya lebih, makanya orang harus berikhtiar mencari nafkah.

Ya cari dong sesuai dengan kemampuan kita, apa aja ikhtiar dilakukan. Islam tidak bilang: Kalian harus jadi orang kaya dulu baru bisa punya anak banyak. Ga ada tu? Islam hanya bilang carilah rezeki dengan jujur dan amanah. Berikhtiarlah dan berdoa minta pertolongan Allah, jauhi cara-cara curang dan cara-cara yang diharamkan.

Banyak fakta di lapangan, orang-orang miskin walau tertatih-tatih mengurus anak-anak mereka, tapi mereka mampu membesarkan anak-anak-mereka. Lihat: Seorang nelayan dengan istrinya yang hanya seorang tukang kue dengan penghasilan yang pas-pasan, bisa membesarkan 10 orang anaknya.

Ada fakta seperti ini?

Ya ada dong? Ya itu tadi! Nelayan dan istrinya yang dimaksud diatas adalah kakek dan nenek saya. Mendiang kakek dan nenek saya itu orang susah. Mereka orang miskin, penghasilan tak menentu, tapi ternyata mereka bisa memberi makan, menyekolahkan 10 orang anak-anak mereka, bahkan anak-anak nenek dan kakek saya sukses jadi orang kaya semua (termasuk almarhum ayah saya). Siapa yang menyangka?

Mau bukti lagi bahwa rezeki itu bukan dari hasil kerja keras?

Baik, saya kasih lagi contoh nyata: teman saya seorang guru honorer, istrinya seorang guru ngaji anak-anak. Total penghasilan mereka mungkin paling tinggi 500ribu per bulan. Anak mereka ada 3, ga tahu kalau sekarang berapa anaknya. Tapi lihat, mereka bisa memberi makan anak-anak mereka, bahkan menyekolahkan, anak-anak mereka ga mati kelaparan, ga terlantar sekolahnya.

Mau bukti yang lebih konkrit lagi??

Oke Boss! Lihat diri ente waktu masih bayi, siapa yang kasih makan ente? Orang tua ente ga bisa nyuapin makanan untuk ente yang masih jadi janin di dalam perut. Tapi ente yang masih berbentuk janin itu tetap makan, tetap hidup melalu tali plasenta.

Masih bilang rezeki itu mutlak dari usaha ente..???

Jadi jelas yang kasih makan para anak-anak ini, bukan dari hasil keringat orang tuanya, bukan karena kekayaan orang tuanya. Tapi Allah yang kasih rezeki. Orang kaya kapitalis susah memahami ini.

Orang kaya kapitalis selalu punya keyakinan kalau punya penghasilan kecil ga kan bisa memberi makan anak. Di otak mereka sudah terpatri kuat pemahaman ini, ga kan bisa di otak-atik lagi. Padahal banyak fakta orang miskin mampu membesarkan anak-anaknya yang banyak, bahkan anak-anak mereka menjadi orang kaya.

Orang Islam (Mukmin) meyakini, banyak jalan pembuka rezeki. Rezeki bisa datang dari mana saja, bukan mutlak dari penghasilan tetap.

Darimana jalan rezeki tersebut?

Ya dari usahalah / ikhtiar yang dilakukan, dari doa yang dipanjatkan, dari ketaqwaan, dari rezeki istri, dari rezeki anak-anak yang dilahirkan, dari keluarga yang menyayangi, dari kerabat, teman, tetangga dan orang-orang yang pemurah. Dari sanalah jalan rezeki datang.

Datangnya rezeki itu bukan karena dari kepintaran kita mencari duit tapi karena pemberian Allah. Semua mahluk di muka bumi ini sudah disediakan rezekinya.

Namun banyak juga fakta di lapangan kalau orang miskin yang banyak anak itu susah hidupnya, tidak sejahtera, kelaparan, kurang gizi. Ini bagaimana?

Itukan persepsi orang kaya kapitalis saja. Mereka melihat zhahirnya (luarnya) saja. Mungkin ketidaksejahteraan yang terlihat itu hanya sebuah bentuk ujian dan keberkahan hidup bagi si miskin. Ada yang tak tampak dari penilaian kasat mata manusia, yaitu hikmah (kebaikan) dan keberkahan. Namanya hidup di dunia, pasti lebih banyak sedih dan susahnya dari pada senangnya, lebih banyak pahitnya dari pada manisnya. Ini namanya ujian Bos! Kalau mau full hidup bahagia, nanti ketika kelak di Surga.

Jika pun si miskin yang banyak anak tadi ternyata hidupnya benar-benar tidak sejahtera, kelaparan, penyakit dan kriminal, mungkin bisa jadi itu adalah teguran yang Allah berikan untuk mereka yang melakukan perbuatan yang diarang olehNya (dosa).

Lagian apa iya si miskin itu semua pada punya banyak anak? Anak-anak yang terlantar dan kekurangan makan / gizi itu, apa dari orang tua yang punya banyak anak? Kayaknya ga semua orang miskin punya banyak anak? Fakta sebaliknya: Jaman now orang miskin lah yang kebanyakan sedikit anaknya. Orang miskin tetap tidak sejahtera hidupnya walaupun punya dua anak. Jadi jelas bukan karena banyak anak penyebab kemiskinan, tapi sistem yang bobrok, ekonomi negara yang tak stabil penyebabnya.

Harusnya orang miskin lah yang takut punya banyak anak, faktanya kan seperti itu. Kalau orang miskin takut punya banyak anak, ya wajar, maklum, manusiawi. Tapi jika si kaya juga takut punya banyak anak, itu sudah keterlaluan, cemen loe...!! Penakut..!! Takut miskin gara-gara anak, padahal harta bertumpuk.

Orang-orang kaya ini kan penggilan tantangan, penikmat menjalani zona tak nyaman, harusnya mereka duluan yang mengambil tantangan ini yaitu PUNYA BANYAK ANAK...!!! Lha orang miskin aja berani punya banyak anak, ente malah terkaing-kaing.

Kesimpulan:

Menyalahkan jumlah anak atas kemiskinan adalah penyederhanaan yang menafikan peran Allah sebagai Pemberi Rezeki dan mengalihkan tanggung jawab struktural dari pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan keadilan.

Umat Islam diajarkan untuk:
  1. Tawakal (berserah diri) pada jaminan rezeki Allah.
  2. Berikhtiar (berusaha keras) mencari nafkah.
  3. Memperkuat kualitas pendidikan anak, bukan sekadar membatasi kuantitas.
Ringkasnya: Kemiskinan adalah ujian dan tanggung jawab sistemik yang harus diselesaikan (si kaya harusnya ikut serta dalam penanggulangan kemiskinan ini), sementara anak adalah anugerah dan amanah dari Allah.

Difan

Menulis itu bukan karena kita tahu banyak, tapi karena banyak hal yang ingin kita tahu

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form